TRADISI REBO KASAN DI KAMPUNG JAWA TONDANO KABUPATEN MINAHASA
- Nurul H Mutmainah IAIN MANADO
- Yusno Abdullah Otta
- Hadirman Hadirman
Abstract
Dewasa ini terdapat berbagai tulisan yang beredar berkaitan dengan
tradisi Rebo Kasan namun banyak yang lebih memfokuskan pada hukum
dari pelaksanaan tradisi itu, sedangkan untuk sudut pandang sejarah dari
tradisi ini terkhususnya di Kampung Jawa Tondano, sangat minim tulisan,
bahkan belum ada yang memfokuskan penelitiannya pada tradisi Rebo
Kasan ini.
Rebo Kasan masih tetap dilaksanakan hingga sekarang oleh
masyarakat Kampung Jawa Tondano sebagai upaya untuk mengungkap
sejarah kemunculan tradisi ini, beserta perkembangannya dalam kehidupan
masyarakat. Sangat perlu pengkajian terkait dengan sejarah, prosesi, dan
faktor.
Author Biography
TRADISI REBO KASAN DI KAMPUNG JAWA TONDANO KABUPATEN MINAHASA
Nurul Husnul Mutmainah
Institut Agama Islam Negeri Manado
Yusno Abdullah Otta
Institut Agama Islam Negeri Manado
Hadirman
Institut Agama Islam Negeri Manado
PENDAHULUAN
Tradisi terdapat di daerah Kampung Jawa Tondano. Sama seperti di daerah lainnya, tradisi Rebo Kasan juga dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan safar dengan tujuan untuk memohon keselamatan dari bencana/kemalangan yang
Dewasa ini terdapat berbagai tulisan yang beredar berkaitan dengan tradisi Rebo Kasan namun banyak yang lebih memfokuskan pada hukum dari pelaksanaan tradisi itu, sedangkan untuk sudut pandang sejarah dari tradisi ini terkhususnya di Kampung Jawa Tondano, sangat minim tulisan, bahkan belum ada yang memfokuskan penelitiannya pada tradisi Rebo Kasan ini.
Rebo Kasan masih tetap dilaksanakan hingga sekarang oleh masyarakat Kampung Jawa Tondano sebagai upaya untuk mengungkap sejarah kemunculan tradisi ini, beserta perkembangannya dalam kehidupan masyarakat. Sangat perlu pengkajian terkait dengan sejarah, prosesi, dan faktor. Hal ini berkaitan dengan upaya agar tradisi Rebo Kasan tidak terlupakan dan menghilang dalam sendi kehidupan perkembangan, atau tidak tergerus dalam ingatan kolektif masyarakat pemiliknya. akan terjadi, serta meminta kemudahan dan kelancaran dalam memasuki bulan Rabiul awal dimana terdapat perayaan Maulid Nabi.
Tidak ada bukti tertulis mengenai sejarah kemunculan tradisi ini, kapan dilaksanakan, dan siapa yang memulainya belum ada yang mengetahuinya secara pasti. Akan tetapi, tradisi ini seolah sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat hingga muncul perasaan asing jika tidak melaksanaanya, hal inilah yang menjadi salah satu sebab mereka menyelenggarakannya pada setiap tahun.[1]
Adapun terkait proses pelaksanaan tradisi Rebo Kasan, dimulai dari jam tujuh atau delapan pagi pada waktu-waktu Dhuha.[1] Bagaimana sejarah dari tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano, Minahasa, dan mengapa tradisi ini masih tetap dilaksanakan hingga sekarang. Hal inilah yang akan menjadi pokok bahasan dalam penelitian kali ini.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana sejarah munculnya tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano? (2) Mengapa tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano bisa bertahan hingga saat ini? Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui dan mengungkapkan sejarah munculnya Tradisi Rebo Kasan dan (2) Untuk mengetahui dan mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan bertahannya tradisi Rebo Kasan.
Kajian Pustaka, Konsep, dan Kajian Teori
- Konsep
- Sejarah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajara yang memiliki arti pohon.[2] Sejarah adalah sesuatu yang bertalian atau ada hubungannya dengan masa lampau.
- Tradisi Rebo Kasan
Rebo Kasan merupakan tradisi yang diselenggarakan oleh masyarakat muslim di berbagai daerah, yang mayoritas penyelenggaraannya dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan safar. Masyarakat percaya bahwa akan turun banyak musibah di bulan tersebut. Salah satu daerah yang melaksanakannya adalah daerah Kampung Jawa Tondano di Kabupaten Minahasa tepatnya di Tondano Utara.
- Kampung Jawa Tondano
Di Minahasa sendiri, tepatnya di daerah Tondano terdapat sebuah kelurahan khusus masyarakat muslim di daerah tersebut, yang dinamai sebagai Kampung Jawa Tondano. Kampung ini dikenal dengan sebutan Jaton (Jawa Tondano) oleh masyarakat umum dan dijuluki sebagai kampung yang kaya akan tradisi Islam, serta sebagai daerah yang mula-mula menerima Islam di Tanah Minahasa.
- Kajian Pustaka
Tinjauan pustaka dibuat untuk menampilkan perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Penulisan mengenai tradisi Rebo Kasan masih jarang ditemukan bahkan belum ada tulisan yang memfokuskan pada tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano. Adapun untuk daerah luar Sulawesi Utara, contohnya seperti di Jawa, ada beberapa artikel yang memaparkan tentang tradisi ‘Rebo Wekasan’ yang memiliki arti yang sama yakni Rabu Pungkasan atau Rabu terakhir.
Salmin Djakaria dalam bukunya memberikan penjelasan yang luas terkait keberadaan kelompok masyarakat Jawa Tondano di Minahasa.[3] Buku tersebut memberikan data penting latar historis keberadaan masyarakat Jawa Tondano, demografi, aspek kemasyarakatan, lokasi dan pola pemukimannya, serta mata pencaharian masyarakat Jawa Tondano. Keterkaitan dengan tradisi Rebo Kasan di Jawa Tondano, kajian Salmin memberikan gambaran umum tentang keberadaan kelompok Jawa Tondano di Minahasa dan aspek budaya yang ada di daerah tersebut. Yang membedakan antara buku Salmin Djakaria dengan tulisan penulis sendiri, terletak pada pokok bahasannya. Salmin lebih mefokuskan pada pembahasan Selawat sedangkan penulis sendiri lebih fokus pada tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano, Minahasa.
Yusno Abdullah Otta, dalam tulisannya mengulas tentang sejarah Kampung Jawa Tondano beserta ragam tradisi yang ada di daerah tersebut.[4] Dalam tulisannya, ia memberikan penjelasan secara umum tentang masing-masing tradisi yang dimiliki Kampung Jawa Tondano sebagai identitas komunitas terebut. Salah satu tradisi yang dijelaskan dalam tulisan ini adalah tradisi Rebo Kasan. Perbedaan tulisan dari Yusno dan bahasan yang akan penulis bahas, terletak pada fokus bahasannya. Penulis akan memfokuskan bahasan pada sejarah dari tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano, Minahasa, sedangkan tulisan Yusno Abdullah Otta, lebih berfokus pada pengaruh globalisasi terhadap tradisi-tradisi Islam di Kampung Jawa Tondano, Minahasa. Selain itu juga Yusno, dalam tulisannya tidak menfokuskan kajian terhadap satu tradisi saja melainkan menjelaskan secara umum tentang tradisi-tradisi tersebut.
Mutingatul Khoeroh dalam skripsinya[5] menjelaskan tentang sejarah tradisi Rebo Kasan dan maknanya bagi masyarakat di desa Banjarsari, Cilacap. Dimana ia menjelaskan bahwa pada hari Rabu terakhir di bulan Safar masyarakat berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan shalat yang mereka sebut dengan salat Rebo Wekasan. Hal ini dilaksanakan oleh masyarakat desa Banjarsari sejak sekitar 20 tahun silam. Bedanya tulisan Mutingatul dengan penelitian kali ini terdapat pada pokok bahasan dan tempat penelitiannya. Dimana selain pembahasan sejarah kemunculan tradisi Rebo Kasan seperti halnya yang terdapat pada tulisan Mutingatul, peneliti juga menfokuskan penelitian ini pada pengungkapan faktor-faktor yang membuat tradisi Rebo Kasan bisa bertahan hingga saat ini di tengah masyarakat Kampung Jawa Tondano, Minahasa.
- Kajian Teori
- Definisi Sejarah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajara yang memiliki arti pohon.[6] Dalam bahasa Melayu disebut sebagai syajarah dan akhirnya dibakukan menjadi bahasa Indonesia dengan sebutan Sejarah. Adapun Istilah sejarah dalam bahasa Arab dikenal dengan Tarikh, dari akar kata arrakha yang berarti menulis atau mencatat, dan catatan tentang waktu serta peristiwa.
Merujuk pada pendapat Kuntowijoyo, yang dikutip oleh Reiza D. Dienaputra dalam buku Sejarah Lisan, mengatakan bahwa sejarah di samping memiliki guna intrinstik juga memiliki guna ekstrinstik. Guna instrinsik sejarah mencakup empat hal, sejarah sebagai ilmu, sejarah sebagai cara mengetahui masa lampau, sejarah sebagai pernyataan pendapat, dan sejarah sebagai profesi. Sementara itu, guna ekstrinsik sejarah mencakup empat hal, yakni, fungsi pendidikan, latar belakang, rujukan, dan bukti.[7]
- Teori Tradisi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi artinya adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan di masyarakat.[8] Tradisi, dalam kamus sosiologi diartikan sebagai kepercayaan dengan cara turun menurun yang dapat dipelihara.[9] Sedangkan dalam kamus antropologi tradisi sama dengan adat istiadat, yakni kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi mengenai nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum dan aturan-aturan yang saling berkaitan, dan kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan yang sudah mantap serta mencakup segala konsepsi sistem budaya dari suatu kebudayaan untuk mengatur tindakan sosial.[10]
Piotr Sztompka dalam Sosiologi Perubahan Sosial, mengemukakan fungsi tradisi bagi masyarakat yaitu: Tradisi adalah kebijakan turun temurun. Tempatnya di dalam kesadaran, keyakinan, norma, dan nilai yang kita anut kini serta di dalam benda yang diciptakan di masa lalu. Tradisi pun menyediakan fragmen warisan historis yang dipandang bermanfaat. Tradisi seperti onggokan gagasan dan material yang dapat digunakan dalam tindakan kini dan untuk membangun masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu.[11]
METODOLOGI PENELITIAN
- Jenis Penelitian
Dalam Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, karya Sugiono, metode penelitian sejarah diartikan sebagai suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.[12]
- Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini, adalah jenis penelitian sejarah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Gilbert J. Garraghan yang dikutip dalam buku Metode Penelitian Sejarah karangan Dudung Abdurrahman, bahwa penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis, dan mengajukan sintetis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis.[13]
- Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang penulis gunakan adalah pendekatan antropologi dengan metode penelitian deskriptif kualitatif.
- Tempat dan Wakktu Penelitian
Lokasi penelitian bertempat di Kelurahan Kampung Jawa Tondano, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa. Waktu penelitian skripsi terhitung dari bulan Juni-Juli 2021.
- Sumber Data
- Data Primer
Data primer adalah data yang didapatkan di lapangan dengan menggunakan teknik sejarah lisan atau dengan kata lain wawancara kepada tujuh orang narasumber. Teknik ini penulis gunakan untuk mendapatkan informasi sejarah dikarenakan minimnya sumber tertulis mengenai sejarah tradisi Rebo Kasan.[14] Adapun dokumentasi dalam hal ini berupa foto pelaksanaan tradisi Rebo Kasan yang penulis dapatkan dari generasi muda yang berlatar tahun 2017, 2018, dan 2021.
- Data Sekunder
Data sekunder adalah sumber/data yang diperoleh secara tidak langsung seperti halnya, buku-buku, skripsi, tesis, desertasi, jurnal, artikel, koran/majalah hingga sumber-sumber yang berasal dari internet.
- Teknik Pengumpulan Data
- Wawancara
Hasil wawancara penulis dapatkan dari tujuh narasumber yang terdiri atas Imam masjid dan wakil Imam selaku pemimpin ritual,[15] 2 orang tokoh agama, koordinator seni budaya (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) kampung Jawa Tondano, tetua kampung Jawa Tondano, dan 2 orang generasi muda.
- Dokumentasi
Dokumentasi sendiri, terdiri dari foto pelaksanaan tradisi Rebo Kasan yang penulis dapatkan dari generasi muda yang berlatar tahun 2017 dan 2018. Di tahun 2019 tidak ada dokumentasi yang diabadikan, begitu pun di tahun 2020 dikarenakan adanya pademi covid-19 yang membatasi gerak interaksi setiap individu. Namun berdasarkan wawancara, tradisi Rebo Kasan tetap dilaksanakan di tahun 2020 dengan anggota yang terbatas.
Untuk tahun 2021, tradisi Rebo Kasan dilaksanakan pada hari Rabu, 4 Agustus 2021 atau bertepatan dengan 25 Dzul Hijjah 1442 H, berdasarkan musyawarah serta ikhtiar dari para warga mengenai pandemic covid-19 yang belum berakhir dan sudah melanda Indonesia setahun lebih. Selain itu terdapat juga foto bersama para informan, dan foto dari doa yang dibacakan dalam pembuatan air Rebo Kasan (Rano Dungo/air yang telah di doakan), serta hasil transkip wawancara yang penulis sertakan dalam studi dokumentasi.
- Teknik Analisis Data
Terdapat beberapa langkah dalam proses analisis data penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman yang dikutip oleh Ahmad Rijali dalam tulisannya Analisis Data Kualitatif, yaitu: Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.[16]
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Sejarah Tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano
Seperti yang telah disinggung di bab sebelumnya bahwa tradisi Rebo Kasan adalah tradisi yang berkembang dan tetap lestari di kalangan masyarakat Muslim di berbagai pelosok Indonesia, termasuk di dalamnya Kelurahan Kampung Jawa Tondano, di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Hadirnya tradisi ini di Kampung Jawa Tondano tak lepas dari pengasingan Kyai Modjo dan rombongannya oleh pemerintah Belanda pada tahun 1828 M. Tak hanya tradisi Rebo Kasan, terdapat pula tradisi-tradisi lainnya seperti tradisi Pungguan, Ambengan, Naderan, Ketupat, Mauludan dan lain-lain, yang masih bisa kita jumpai di jaman sekarang ini yang tentu kehadirannya tak lepas dari keberadaan Kyai Modjo beserta rombongannya.[17]
Diketahui al-Allamah Syaikh al-Dhairabi pernah berkata dalam Mujjarabarnya (FAIDAH), yang dikutip dari website Pondok Pesantren Sunan Bejagung. Bahwa: Sebagian orang yang makrifat dari ahli kasyaf dan tamkin menyebutkan: setiap tahun, turun 320.000 cobaan. Semuanya itu pada hari Rabu akhir bulan Safar, maka pada hari itu menjadi sulit-sulitnya hari di tahun tersebut.[18] Nampaknya, pernyataan dari ulama ini turut mempengaruhi pengetahuan tentang Rebo Kasan dari beberapa orang narasumber yang penulis wawancarai, seperti Asrul dan Sumariono Zees (61 tahun).[19]
Tradisi Rebo Kasan sudah melekat pada masyarakat Jaton yang dilaksanakan oleh para pendahulu atau pendiri kampung yang diturunkan kepada generasi selanjutnya sampai sekarang. Menurut penulis, dari wawancara yang dilangsungkan dengan beberapa narasumber, masyarakat Jaton hanya mengetahui bahwa tradisi ini ada berawal dari datangnya rombongan Kiai Modjo yang di asingkan oleh pemerintah Belanda ke daerah Kolonial di Manado pada tahun 1828 M dan kemudian tepatnya tahun 1830 dirintislah Kampung Jawa Tondano.
Di zaman yang semakin berkembang banyak tradisi yang mulai tergerus dan lambat laun menghilang dari sendi-sendi kehidupan masyarakat. Namun di Kampung Jaton sendiri pelestarian dari budaya maupun tradisi terbilang sangat baik, ini dapat kita lihat dari tradisi yang masih bisa ditemukan hingga saat ini contohnya seperti tradisi Rebo Kasan.
Hari pelaksanaan tradisi dari Rebo Kasan cukup sulit untuk dihadiri oleh banyak orang. Berbeda dengan tradisi Pungguan yang bisa dapat memilih hari libur dalam melaksanakannya,[20] maupun tradisi Maulid Nabi yang merupakan hari libur Nasional. Hal ini bisa dipahami mengapa tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano tampak lebih sepi dari kaum muda dan hanya dihadiri oleh para orang tua, pensiunan, dan para pekerja dengan jam kerja fleksibel, dibandingkan perayaan tradisi-tradisi yang ada di lain yang dirayakan secara besar-besaran.
Minimnya perhatian masyarakat Jaton terhadap tradisi ini dapat penulis lihat dari respon-respon yang diberikan oleh para narasumber di mana sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa tradisi Rebo Kasan bukanlah perayaan besar-besaran seperti Mauludan. Terkait sejarah awal dari tradisi ini pun tidak ada yang tau pasti kapan dan siapa yang melaksanakannya pertama kali, pandangan umum mengatakan bahwa tradisi ini sudah ada sejak datangnya rombongan Kiai Modjo sebagai pendiri kampung.
Dilihat dari hasil wawancara, penulis berpandangan bahwa tradisi Rebo Kasan tidak akrab dengan para generazi Z dikarenakan tradisi ini memiliki rangkaian pelaksanaan yang sederhana yang tidak memerlukan susunan panitia remaja-remaji dalam prosesinya. Berbeda dengan tradisi Mauludan yang merupakan perayaan besar dengan berbagai rangkaian yang tentunya memerlukan tenaga para remaja-remaji, contohnya seperti ketika melantunkan Solawat Jowo yang diiringi dengan rebana.[21]
Jika dilihat dari tingkat perhatian tiap generasi, tidak menutup kemungkinan 20 tahun kemudian tradisi ini akan menghilang dari kehidupan masyarakat pemiliknya.
Adapun rangkaian pelaksanaannya sebagai berikut: Membaca syahadat 3x, istigfar 3x, solawat 1x, doa pengantar Al-Fatihah, surah Al-Fatihah, surah Al-Ikhlas sebanyak 3x, tahlil dan takbir, surah Al-Falaq, tahlil dan takbir, surah An-Nas, tahlil dan takbir, surah Al-Fatihah, surah Al-Baqarah ayat 1-5, surah Al-Baqarah ayat 163, Ayat Kursi, surah Al-Baqarah ayat 284-286, surah Hud ayat 73, surah Al-Ahzab ayat 33, surah Al-Ahzab ayat 56, solawat Nabi 3x, surah Al-Imran ayat 173 dan Surah Al-Anfal ayat 40, hauqalah, istigfar 3x, tahlil 160x, syahadat, dan doa tolak bala.[22]
Doa tolak bala:[23]
Allahummadfa’ annalgholā’ wal balā’ wal wabā’ wal fakhsya’ wal munkar was syada’id wal mihan ma dzahara minha wa mā bathan, fi biladina hadza khossoh, wa fi buldanil muslimina ammah, bi rahmatika ya arhamar rahimin.
Artinya: “Ya Allah Tuhan kami. Jauhkanlah kami dari malapetaka, bala dan bencana, kekejian dan kemunkaran, kekejaman dan peperangan, yang tampak dan yang tersembunyi dalam negara kami khususnya, dan dalam negara kaum muslimin umumnya. Dengan rahmatmu Ya Allah yang maha pengasih dan yang pengasih.”
Dalam prosesi Rebo Kasan, doa tolak bala yang di pakai adalah seperti yang penulis sebutkan di atas. Dari doa ini, tercermin nilai tauhid (spiritual) yang penulis sempat sebutkan sebelumnya, yang bisa kita lihat dari seluruh rangkaian kalimatnya, yang memohon dan meminta pertolongan kepada Allah swt. untuk dihindarkan dari segala bencana. Sebagaimana tujuan dari pelaksanaan tradisi Rebo Kasan.
Perayaan Rebo Kasan di kampung Jawa Tondano sendiri menurut penulis puncak perayaan atau inti dari tradisi ini terdapat pada rangkaian terakhir yakni pembuatan Rano Dungo (air doa). Sebagai mana yang dikatakan oleh Asrul bahwa dalam pembuatannya, kertas yang telah dituliskan doa oleh Imam Masjid kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang telah di isi air, nantinya air tersebut dibagikan kepada masyarakat setelah tintanya melebur.
- Faktor-Faktor Bertahannya Tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano
Kampung Jawa Tondano dikenal sebagai daerah awal Islam yang kental akan tradisi keberagamaannya, di mana kehadiran tradisi-tradisi ini semakin memperkuat identitas masyarakat Jawa Tondano sebagai masyarakat ras baru di Minahasa. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan tradisi ini bisa bertahan, antara lain:
Rebo Kasan sebagai ritual adat pada masyarakat Jaton (Jawa Tondano) dapat bertahan di tengah zaman yang semakin berkembang dikarenakan adanya kecenderungan masyarakat untuk meniru atau melakukan amalan-amalan serta petuah-petuah dari orang tua terdahulu, sehingga menyebabkan timbulnya perasaan takut dan asing ketika tidak melaksanakan tradisi yang telah diwariskan, disamping hal-hal positif lainnya yang bisa dijumpai dalam pelaksanaan tradisi ini. Sebagaimana yang diungkapkan oleh narasumber.[24] Bagi mereka tradisi-tradisi ini adalah sebuah warisan yang diberikan oleh para pendahulu yang harus dijaga, selama tidak membawa keburukan bagi diri sendiri dan bagi kehidupan bermasyarakat, maka tradisi ini akan tetap dilestarikan.
Pewarisan nilai-nilai tradisi Rebo Kasan dilakukan dalam lingkungan masyarakat, di mana dalam proses ritualnya terdapat nilai-nilai yang terkadung seperti nilai religiusitas dan nilai solidaritas. Selaras dengan penjelasan di atas, tradisi Rebo Kasan pada masyarakat kampung Jawa Tondano merupakan religiositas (mengharapkan ridho Allah swt) yang diwujudkan dalam bentuk suatu rangkaian tradisi, sekiranya menjadi pengingat bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan dari yang maha kuasa.
Nilai solidaritas tercermin dalam filosofi Jawa, Mangan ora mangan sing penting ngumpul (Makan tidak makan yang penting ngumpul).[25] Filosofi yang masih sangat berlaku di Kampung Jawa Tondano, mempererat hubungan silaturahim satu sama lain melalui perayaan-perayaan tradisi sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Qodir Pulukadang (35 tahun).[26]
KESIMPULAN
Tradisi Rebo Kasan adalah tradisi yang melekat pada masyarakat Jaton yang dilaksanakan oleh para pendahulu atau pendiri kampung yang diturunkan kepada generasi selanjutnya sampai sekarang. Tidak ada bukti asli berupa dokumentasi maupun keterangan pasti mengenai tahun dilaksanakannya tradisi ini. Masyarakat Jaton umumnya berpandangan bahwa tradisi-tradisi yang ada di kampung mereka, jelasnya dibawa oleh rombongan Kiai Modjo yang diketahui sebagai pendiri kampung ini.
Tradisi Rebo Kasan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jaton, selain memiliki makna pengharapan dan diwujudkan dalam bentuk rangkaian proses pelaksanaan yang ada, tradisi ini nyatanya berfungsi juga sebagai pengingat bagi masyarakat akan tibanya bulan Rabiul Awal sebagai bulan dari perayaan Maulid Nabi. Pada Rebo Kasan ini pula terdapat salah satu perintah Allah swt. untuk kehidupan manusia, yaitu bermusyawarah.
Adapun saran yang bisa penulis sampaikan mengenai topik penelitian yaitu:
- Tradisi Rebo Kasan di Kampung Jawa Tondano dianggap sebagai tradisi baik yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. sekaligus menegaskan bahwa kita sebagai manusia adalah makluk yang tak berdaya tanpa adanya bantuan dari sang Maha Pencipta. Walaupun tradisi ini tidak semeriah perayaan tradisi lain yang ada di Kampung Jawa Tondano, namun tradisi ini selalu di rayakan setiap tahun tanpa terkecuali, oleh karena itu Rebo Kasan perlu untuk dilestarikan.
- Kepada generasi pewaris tradisi Rebo Kasan untuk bisa terus menjaga tradisi ini agar tidak terjadi ancaman kepunahanya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Otta, Yusno. Dinamisasi Tradisi Islam Di Era Globalisasi: Studi atas Tradisi Keagamaan Kampung Jawa Tondano, Jurnal Sosiologi Reflektif. (Volume 10, N0. 1 Oktober 2015)
Abdurahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999)
A., Agustianto, Makna Simbol Dalam Kebudayaan Manusia, Jurnal Ilmu Budaya, (Vol. 8, No. 1 Tahun 2011).
Badan Statistik Penduduk Manado Tahun 2010, https://www.bps.go.id. Diakses 02 Maret 2020 pukul 14:30 Wita.
Chalik, Abdul, Agama dan Politik Dalam Tradisi Perayaan Rebo Wekasan, Jurnal Kebudayaan Islam, (Vol. 14, No. 1, Januari-Juni 2016).
Data Kelurahan Kampung Jawa Tondano tahun 2021
Departemen, Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya, Yayasan penyelenggara penerjemah Al-Qur’an, Jakarta Timur 2002.
Dienaputra, Reiza D., Sejarah lisan: Metode dan Praktek (Bandung: Penerbit Balatin, 2007)
Djakaria, Salmin. Selawat Sebagai Media Internalisasi Nilai Budaya Pada Masyarakat Kampung Jawa Tondano Di Minahasa. (Manado: Penerbit Kepel Press, 2015)
Djakaria, Salmin. Sholawat Jowo Sebagai Strategi Pemertahanan Komunitas Jawa-Tondano. (Manado: Penerbit Amara Books, 2016)
Djakaria, Salmin. Telaah Sastra Teks Sholawat Jowo Versi Roksonegoro. (Manado: Penerbit Amara Books, 2017)
Djojosuroto, Kinanti, Dialek Dan Identitas Jawa Tondano Di Minahasa, Jurnal Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta.
Nugrahani, Farida, Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa (Semarang: 2014).
Sjamsuddin, Helius. Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2016)
- Baran, Stanley. Pengantar Komunikasi Masa Melek Media dan Budaya, terj. S. Rouli Manalu. (Jakarta: Erlangga, 2012)
Jempa, Nurul, Nilai-Nilai Agama Islam, (Pedagodik Vol. 1, No. 2, Maret 2018).
Khoir Masykur, M., Hidayah Tuntunan Ibadah Sunnah 12 Bulan, (Kediri: Duta Karya Indonesia, 2011).
Koentjaraningrat. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan di Indonesia. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992)
Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006)
Mapiasse, Sulaiman, Ritual dan Spiritual Keagamaan Mahasiswa Muslim di Wilayah Minoritas Plural, Jurnal Ilmiah Iqra Fakultas Trbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Manado, (Vol. 14 No. 02, 2020).
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000)
Ni’mah, Ma’sumatun. Tradisi Islam di Nusantara. (Klaten: Penerbit Cempaka Putih, 2019)
Ningsi, Jujun, dkk., Analisis Nilai-Nilai Solidaritas Dalam Tradisi Beruduk Pada Etnis Dayak Banjur Kabupaten Sintang, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, (Vol. 9 No. 09, 2020).
Nurmansyah, Gunsu, dkk., Pengantar Antropologi, (Bandar Lampung: Aura Cv. Anugrah Utama Raharja, 2019).
Peursen, Van. Strategi Kebudayaan. (Jakarta: Kanisus, 1976)
Rahima, Ade, Nilai-Nilai Religius Seloko Adat Pada Masyarakat Melayu Jambi (Telaah Struktural Hermeneutik), Jurnal Ilmiah Univesitas Batanghari Jambi, (Vol. 14 No. 4 Tahun 2014).
Rijali, Ahmad, Analisis Data Kualitatif, Jurnal Alhadharah, (Vol. 17 No. 33 Januari – Juni 2018).
Rukmina Gonibala, Ardianto, Hadirman, Strategi Pelestarian Tradisi Katoba sebagai Media Pendidikan Islam pada Masyarakat Etnis Muna di Sulawesi Tenggara, Journal of Islamic Education Policy, (Vol. 3 No. 1, 1-11 2018).
Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, dan Kuantitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2006)
Soukotta, Dwars, dkk., Klarifikasi Ruang Teritori Publik Pada Rumah-Rumah di Kampung Jawa Tondano. (Media Matrasain 11, no. II 2014)
WEB
https://kbbi.kemdikbud.go.id
https://sunanbejagung.ponpes.id
https://www.youtube.com/watch?v=nW2XqqOyAus
[1] Sumariono Zees (61 tahun), Imam Masjid Baitul Makmur, Wawancara, Kampung Jawa Tondano, 18 Juni 2021.
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, https://kbbi.kemendikbud.go.id, diakses pada 04 Desember 2020 pukul 15:15 wita
[3] Salmin Djakaria, Selawat Sebagai Media Internalisasi Nilai Budaya Pada Masyarakat Kampung Jawa Tondano Di Minahasa (Manado: Penerbit Kepel Press, 2015), h. 13
[4] Yusno Abdullah Otta, Dinamisasi Tradisi Islam Di Era Globalisasi: Studi atas Tradisi Keagamaan Kampung Jawa Tondano, Jurnal Sosiologi Reflektif, (Volume 10, N0. 1 Oktober 2015), h. 93
[5] Mutingatul Khoeroh, Sejarah dan Makna Tradisi Rebo Wekasan di Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungi, Cilacap, (Skripsi, IAIN Purwokerto, 2019).
[6] Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, https://kbbi.kemendikbud.go.id, diakses pada 04 Desember 2020 pukul 15:15 wita
[7] Reiza D. Dienaputra, Sejarah Lisan: Metode Dan Praktek … h. 19.
[8] W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1985), h. 1088.
[9] Soekanto, Kamus Sosiologi (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 1993), h. 459.
[10] Ariyono dan Aminuddin Sinegar, Kamus Antropologi(Jakarta: Akademika Pressindo, 1985), h. 4.
[11] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada Media Grup, 2007), h. 74-75.
[12] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 3.
[13] Dudung Abdurahman, Metode Penelitian Sejarah (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 43.
[14] Reiza D. Dienaputra, Sejarah lisan: Metode dan Praktek (Bandung: Penerbit Balatin, 2007), h. 10.
[15] Dalam perjalanan penelitian, penulis hanya berhasil dalam mewawancarai Wakil Imam Masjid Al-Falah Kiai Modjo sebagai salah satu tokoh yang memimpin ritual. Sedangkan untuk Imam Masjid sendiri, penulis tidak berhasil melakukan wawancara karena Imam Masjid sedang berada dalam kondisi yang tidak sehat dengan pendengaran yang sudah berjalan tidak normal.
[16] Ahmad Rijali, Analisis Data Kualitatif, Jurnal Alhadharah, (Vol. 17 No. 33 Januari – Juni 2018), h. 83.
[17] Kiai Modjo dan 63 pengikutnya dibuang ke Manado setelah pecahnya perang Jawa atau yang lebih di kenal sebagai perang Diponegoro. Penangkapan Kiai Modjo terjadi pada tahun 1828 di Kembang Arum Yogyakarta. Perjalanan untuk pengasingan dimulai oleh Pangeran Diponegoro bersama Kiai Modjo dan rombongannya, namun dalam pengasingannya, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Makassar dan Kyai Modjo beserta rombongannya di asingkan ke Tondano. Perjalanan menuju Tondano segera dimulai dengan rute Manado – Tonsea Lama – Tondano, dengan menyusuri aliran sungai Tondnao. Dengan keahlian yang mereka miliki, daerah yang tadinya hanya berupa hutan dan rawa, diubah menjadi tempat untuk mereka tinggali hingga berjalannya waktu, Kiai Modjo dan pengikutnya telah menciptakan suatu pemukiman baru di Tondano, yaitu kampung Jawa Tondano pada 1830-1831. Kinanti Djojosuroto, Dialek Dan Identitas Jawa Tondano Di Minahasa, Jurnal Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta, h. 9.
[18]Fadhoilul Amal-Amaliyah Rebo Wekasan 2019. https://sunanbejagung.ponpes.id, diakses 30 Juni 2021 pukul 14:14 wita.
[19] Sumariono Zees (61 tahun), Imam Masjid Baitul Makmur: Dari yang saya baca, tradisi Rebo Kasan ini mulanya berawal dari seorang ulama yang sudah mencapai tingkatan wali. Dalam perjalanan sspiritualnya dia mengatakan bahwa di bulan safar akan turun sebanyak 320.000 bencana, penyakit dan hal-hal malang lainnya. Lalu di buatlah air doa ini. Wawancara, Kampung Jawa Tondano, 18 Juni 2021.
[20] Yusno Abdullah Otta, Dinamisasi Tradisi Islam Di Era Globalisasi: Studi atas Tradisi Keagamaan Kampung Jawa Tondano, Jurnal Sosiologi Reflektif, (Volume 10, N0. 1 Oktober 2015), h. 93
[21] Gendang pipih bundar yang dibuat dari tabung kayu pendek dan agak lebar ujungnya, pada salah satu bagiannya diberi kulit.
[22] Bacaan Doa Tahlil, https://www.brilio.net/wow/bacaan-doa-tahlil-beserta-susunannya-lengkap-dengan-arti-200430m.html, Diakses 02 Agustus 2021 pukul 20:00 Wita.
[23] Doa Tolak Bala, https://www.youtube.com/watch?v=nW2XqqOyAus, Diakses 02 Agustus 2021 pukul 20:10 Wita.
[24] Asrul Tumenggung Zeez (52 tahun): Karena tradisi ini sudah dijalankan dalam kehidupan masyarakat secara berulang-ulang maka di generasi selanjutnya terdapat perasaan takut untuk meninggalkan atau tidak melaksanakan tradisi ini. Lagi pula air ini dibuat oleh para orang tua yang saya yakin tidak memiliki niat buruk di dilamnya, kita hanya tinggal meminumnya, apa masih tidak mau? malah ingin mendebat? Saya pernah membaca buku judulnya Pusaran Energi Kabah, karangan seorang ahli atom, inti dari buku itu berbicara bahwa melakukan amalan-amalan yang baik, seperti berzikir, bersolawat, dan ibadah-ibadah lain, akan memebntuk sebuah energi positif yang akan mempermudah dikabulkannya sebuah doa. Seperti contohnya di Mekah tepatnya di kabah, yang disebut-sebut sebagai tempat yang doanya tidak tertolak. Wawancara, Kampung Jawa Tondano, 11 Juni 2021.
[25] 13 Karakter, Sifat, dan Kebiasaan Orang Jawa, https://salamadian.com, diakses 30 Juni 2021 pukul 20:00 wita.
[26] Menurut Abdul Qadir Pulukadang (35 tahun), Imam Masjid Diponegoro: Sudah menjadi ciri orang Jawa itu, ngumpul, mau makan tidak makan yang penting ngumpul. Sekiranya tradisi ini bisa jadi ajang bertemu, mempererat tali silaturahim karena seperti yang kita tahu bahwa setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Jika tidak ada lagi tradisi-tradisi seperti ini, maka akan hilanglah salah satu waktu untuk berkumpul bersilaturahim. Wawancara, Kampung Jawa Tondano, 16 Juni 2021.
