https://ejournal.iain-manado.ac.id/jinnsa/issue/feed Jurnal JINNSA (Jurnal Interdipliner Sosiologi Agama) 2026-01-20T07:02:11+00:00 Muhammad Kamil Jafar N [email protected] Open Journal Systems <p>JINNSA (Jurnal Interdipliner Sosiologi Agama) merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Manado yang bekerja sama dengan <a title="MoU" href="https://drive.google.com/file/d/1WgolK2_yg5xDgD5t8lmaxnIsQgO5nHmU/view?usp=sharing">Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAGI).</a></p> <p>JINNSA (Jurnal Interdipliner Sosiologi Agama) terbit 6 bulan sekali pada Juni dan Desember. Jurnal JINNSA mengundang para akademisi, ilmuan, sarjana, profesional dan peneliti untuk berkontribusi dalam bentuk artikel yang berkaitan dengan Sosiologi Agama, Keberagamaan, Agama dan Masalah sosial maupun isu-isu aktual yang berkaitan dengan Sosial Keagamaan. Mengenai sistematika penulisan, dapat dibaca pada halaman tersendiri. Tim Redaksi dapat mengubah/memperbaiki susunan kalimat tanpa mengurangi isi dari artikel yang telah dikirim.</p> <p>Fokus dan Scope dari JINNSA (Jurnal Interdipliner Sosiologi Agama) adalah artikel penelitian dari studi literatur maupun studi lapangan yang berdasarkan perspektif Sosiologi Agama, seperti kajian Agama dan Budaya, Agama dan Masyarakat, Konflik Agama, Agama dan Media, Agama dan Ekologi, serta hasil penelitian yang berkaitan dengan sosial-humaniora.</p> <p>&nbsp;</p> https://ejournal.iain-manado.ac.id/jinnsa/article/view/1822 Ujaran Kebencian di Media Sosial Instagram dan Tiktok: Studi Sikap Mahasiswa IAIN Manado 2025-12-30T16:00:38+00:00 Fidia Hassan [email protected] <p style="font-weight: 400;">The rapid expansion of social media has transformed digital platforms into new public spheres that enable massive interaction and expression, while simultaneously generating serious challenges such as the proliferation of hate speech. This article aims to analyze the attitudes of students at IAIN Manado toward hate speech on Instagram and TikTok and to examine the factors influencing these attitudes. This study employs a qualitative approach with a field research design. Data were collected through in-depth interviews, observation of social media activities, and documentation involving ten purposively selected students. Data analysis was conducted through data reduction, thematic categorization, and interpretative analysis by linking empirical findings with theories of attitude, social action, and the digital public sphere. The findings reveal that students generally possess a good level of knowledge regarding hate speech, although the depth of understanding varies according to academic background. Students’ attitudes toward hate speech can be categorized into three main patterns: active rejection, adaptive caution, and permissive attitudes. These attitudes are influenced by digital literacy, religious values, local cultural norms, social media experiences, and concerns over the chilling effect. This study emphasizes that hate speech on social media should not be understood merely as individual expression, but as a structural phenomenon embedded within the dynamics of the digital public sphere shaped by algorithms and commercial logics. Therefore, addressing hate speech requires a multidimensional approach that integrates legal frameworks, digital literacy education, communication ethics, and the strengthening of religious moderation values within higher education institutions.</p> 2025-12-30T16:00:05+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.iain-manado.ac.id/jinnsa/article/view/1860 Dari Teks ke Praktik Sosial: Rekonstruksi Usul Al-Fiqh Ulama Nusantara dalam Perspektif Antropologi 2026-01-20T05:07:25+00:00 Pangeran Putra Perkasa Alam Nasution [email protected] Abdul Rahman Daengparani [email protected] <p class="p1"><em>T</em><span class="s1"><em>his article examines the characteristics of Nusantara ulama’s fiqh through an Islamic anthropology approach combined with a reconstruction of contemporary uṣūl al-fiqh. The study addresses the academic problem of the dominance of normative-doctrinal approaches in fiqh studies that often neglect the social, cultural, and ethical dimensions of Islamic legal practices in non-Arab Muslim societies. Employing a qualitative hybrid approach, this research analyzes contemporary fiqh texts and ulama discourses using discourse analysis and normative-reflective readings of ‘urf, maqāṣid al-sharī‘ah, Sufism, and collective ijtihad. The findings reveal that Nusantara fiqh functions as a dynamic socio-religious practice, produced through negotiations between Islamic norms, local customs, and the needs of a plural society. The integration of Sufism strengthens the ethical dimension of fiqh, while collective ijtihad and the recognition of ‘urf serve as the epistemological foundations that ensure social legitimacy and contextual relevance. This article contributes to the development of sociology of religion and Islamic anthropology by offering an integrative framework for understanding fiqh as a lived and socially embedded practice.</em></span></p> 2025-12-31T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.iain-manado.ac.id/jinnsa/article/view/1866 Formal Vs Informal: Dinamika Nilai Keagamaan Dan Budaya Loan Practice Komunitas Islam Minoritas Di Minahasa Utara 2026-01-20T07:02:11+00:00 Nurul Azizah Azzochrah [email protected] <p>Penelitian ini mengkaji interaksi dinamis antara lembaga keuangan formal dan informal dalam komunitas nelayan Muslim minoritas di Minahasa Utara, Indonesia. Komunitas-komunitas ini menghadapi berbagai hambatan struktural dalam mengakses layanan keuangan formal, khususnya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Akibatnya, mereka sering bergantung pada mekanisme informal—seperti hubungan patron-klien, skema pinjaman kelompok, dan praktik utang timbal balik—yang tertanam kuat dalam budaya lokal dan dipengaruhi oleh nilai-nilai etika Islam, termasuk larangan <em>riba</em>, prinsip keadilan (<em>‘adl</em>), tolong-menolong (<em>ta‘āwun</em>), dan pencarian keberkahan (<em>barakah</em>). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menelaah bagaimana norma-norma moral Islam dan tradisi budaya lokal berinteraksi dalam membentuk perilaku keuangan dan preferensi kelembagaan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini mengandalkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen untuk memperoleh temuan yang bersifat kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik keuangan dalam komunitas ini bukan sekadar pilihan ekonomi, melainkan cerminan dari logika moral yang kompleks dan kewajiban sosial. Tiga tipologi interaksi berhasil diidentifikasi—substitusi, pelengkap, dan hibrida—yang sejalan dengan bentuk budaya seperti sistem patronase, <em>gotong royong</em>, dan pengaturan keuangan kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konvergensi antara etika Islam dan sistem budaya lokal membentuk ekologi keuangan yang khas dan kontekstual, yang secara simultan menjawab kebutuhan masyarakat serta mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh lembaga keuangan formal. Temuan ini menekankan pentingnya pengembangan model keuangan mikro syariah yang inklusif dan berbasis komunitas, dengan mempertimbangkan realitas budaya lokal</p> 2025-12-31T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement##