PERJUMPAAN SOSIAL MASYARAKAT ISLAM DAN ARAB
Abstract
Islam is a religion that does not recognize social class. The presence of Islam has become an integral part of the existence of various groups on earth. Arabs, which is the tribe where the Prophet Muhammad SAW. born and raised. In its development, they are so proud of their ethnicity, that they are in a policy and social attitudes in society. Islam has taught al-Musawat in life. Not differentiated from ethnicity, but united in Islam. Between Arabs and Ajams, Arabs and Mawalli, then the policy period of the Umayyads, Abbasids, on the expansion of areas by Arab Muslims, sparked the intrigue of the movement in some non-Arab groups, which we later know as the Shu'ubiyyah movement. This study will review further the relationship between Arab and Persian as an Islamic society. Researchers use historical approaches and historical methods as one of the procedural in historical research. The result is that the Arabs are still a tribe that is still proud of their ancestors. This is undeniable in the course of history. However, the Islamic diaspora has stopped in various countries and has direct contact with the country's tribes and ethnicities, for example Persia. So still, non-Arabic groups whose mother tongue is not Arabic (Ajam) are often still considered below the Arab tribal social class. So that's where the Shu'ubiyyah movements emerged as a form of resistance from the dominating Arab culture.
Islam merupakan agama yang tidak mengenal kelas sosial. Kehadiran Islam telah menjadi satu ikatan utuh dari adanya kelompok-kelompok yang beragam di muka bumi. Arab, yang merupakan suku di mana Rasulullah Muhammad Saw. dilahirkan dan dibesarkan. Dalam perkembangannya, mereka begitu membangga-banggakan kesukuan mereka, hingga berada pada sebuah kebijakan dan sikap-sikap sosial dalam masyarakat. Islam telah mengajarkan al-Musawat dalam kehidupan. Tidak dibeda-bedakan dari suku, etnis tapi disatukan dalam keislaman. Antara Arab dan Ajam, Arab dan Mawalli, kemudian masa-masa kebijakan Umayah, Abbasiyah, atas ekspansi daerah-daerah oleh Muslim Arab, menyulut intrik gerakan pada sebagian kelompok non-Arab, yang kemudian kita kenal dengan gerakan Syu’ubiyyah. Penelitian ini akan mengulas lebih jauh terkait hubungan Arab dan Persia sebagai masyarakat Islam. Peneliti menggunakan pendekatan sejarah dan metode sejarah sebagai salah satu prosedural dalam penelitian sejarah. Adapun hasilnya bahwa kelompok Arab masih saja menjadi suku yang masih bangga akan nenek moyangnya. Ini tidak bisa dipungkiri dalam perjalanan sejarah. Akan tetapi diaspora Islam telah singgah diberbagai negara dan bersentuhan langsung dengan suku dan etnis negara tersebut, misalnya Persia. Sehingga masih saja, kelompok non-Arab yang bahasa ibunya bukan Arab (Ajam) mereka seringkali masih dianggap dibawah dari kelas sosial kesukuan Arab. Sehingga dari situlah muncul gerakan-gerakan Syu’ubiyyah sebagai salah satu bentuk perlawanan dari budaya Arab yang mendominasi.